Warna-warni Semesta ala Eka Kurniawan

 


Judul buku : Tragedimu Komediku

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Pojok Cerpen dan Tanda Baca

Cetakan : Pertama, Juli 2023

Tebal : xii + 276 halaman

ISBN : 978-623-5869-18-6

 

Buku ini saya beli Agustus 2023, tetapi baru rampung dibaca Juli 2024. Memang, begitu mendapatkannya, saya tidak langsung mengeksekusi. Durasi membacanya pun cukup panjang, yaitu nyaris tiga bulan. Mungkin karena kebiasaan. Saya biasa mencari hal lain dari sebuah tulisan. Seperti tidak ingin terjebak dengan tafsir umum, berusaha melampaui apa yang tampak sebagai kulit. Dan, ya, benar adanya. Sebagian esai-esai itu membawa saya ke titik beyond.

Eka memakai pendekatan analogi. Ada yang berdasar pengalamannya sendiri, ada juga yang berdasar cerita orang lain. Namun, semua itu membawa pembaca ke satu titik, yaitu perspektif baru. Jika bukan perspektif baru, ia akan menuju pelebaran sudut pandang. Tentu saja ini bagus. Setidaknya, level empati bertambah, entah banyak atau sedikit.

Sebagian judul dalam buku ini ditulis di masa pandemi. Saya rasa cukup menjadi pelampiasan terhadap segala keterbatasan. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa pagar-pagar itu bisa kita lewati bukan dengan fisik, melainkan pikiran. Betapa energi kreatif mendapatkan panggungnya. Ia mampu membuat sekian judul hanya dari satu objek, yaitu virus korona.

Saya rasa teori bawang merah tidak hanya bida dipakai di ranah psikologi, tetapi juga di ranah-ranah lain, selama itu menyangkut kehidupan di jagat raya. Satu per satu lapisan terbuka sampai bertemu inti atau esensi. Mengajak pembaca kembali kepada konsep dasar semesta, bahwa segalanya tidak selalu harus disamakan, bahwa segala hal—makhluk hidup atau benda mati—memang terlahir atau tercipta berbeda-beda. Pun, segalanya dinamis, bergerak menuju keseimbangan.

Eka mampu menyulapkan peristiwa random dalam keseharian menjadi sebuah esai sederhana, tetapi sanggup membuat pembacanya merenung. Sederhana, tetapi terkupas rapi dengan bentuk final yang indah.

Silakan simak esai berjudul Otobiografi Nasi Goreng. Nasi goreng adalah perkara remeh, sesuatu yang kita jumpai sehari-hari. Kasarnya, bukan hal spesial, apalagi kalau tidak pakai telur atau suwiran daging ayam. Namun, di sana Eka menulis, “Nasi goreng, jangan-jangan, bisa dibaca jadi sejenis otobiografi kita. Ketika masih susah, ia merupakan upaya agar tidak ada yang terbuang. Ketika sedikit ada rezeki, ia pelarian ketika malas menanak nasi di rumah. Saat telah makmur sungguhan, ia diciptakan semata-mata untuk memenuhi hasrat konsumsi kita.” (halaman 170)

 

Seniman berkarya karena merasa perlu menuangkan keresahannya. Orang lain mungkin mewujudkan keresahan dalam bentuk amarah atau tindakan anarki. Namun, seniman memilih jalan sunyi berujung keindahan. Esai Merasa Benar dan Merasa Salah terpantik dari pengalaman Eka saat berada di jalanan kota Ho Chi Minh. Kesemrawutan di atas aspal digubah menjadi narasi cantik di atas kertas.

Premis benar dan salah pun bukan sesuatu yang langka dibahas. Ini seperti mengarang novel atau cerpen dengan tema cinta segitiga. Banyak yang melakukan, tetapi dengan detail-detail berbeda. Benar atau salahnya sesuatu tentu saja bersifat relatif. Sama halnya dengan cinta segitiga yang tidak melulu laknat.

Menurut Eka sendiri, benar akan tetap benar sampai terbukti sebaliknya. Saya sendiri cenderung setuju dengan pemikiran seorang praktisi penyembuhan. “Benar hanya akan tergantikan dengan benar yang lain.” Hanya saja, perspektif dan konteks tetap perlu ditilik lebih saksama.

 

Bukan Eka Kurniawan jika tidak pernah menyenggol sastra dalam tulisannya. Setidaknya ada dua nama besar yang ia bawa dalam bukunya, yaitu Budi Darma dan Hilman Hariwijaya. Kebetulan dua tulisan itu adalah obituari. Yang tertinggal dari seorang penulis tentu saja karya-karyanya. Dan, dua nama besar itu berhasil membuat ciri khasnya sendiri.

 

Hal lain yang saya rasakan adalah pedasnya kritik yang diracik Eka, terutama kepada pemerintah. Mungkin memang darinya pribadi, atau mungkin permintaan media—mengingat esai-esai ini tayang di Jawa Pos. Terlepas dari itu, saya kagum dengan aura kenetralan yang sengaja dibawa Eka. Ia memberi kritik pedas sekaligus menyodorkan air minum untuk mengusir nyeri di lidah pembaca. Memang, ini subjektif. Pembaca mungkin tidak akan menemukan bukti dalam kalimat-kalimat yang dipakai Eka. Namun, aura itu cukup terasa.

Esai berjudul Kisah Sukses adalah salah satunya. Ia bercerita soal privilege atau hal Istimewa atas suatu hal. Kata kuncinya adalah akses. Kita tidak perlu munafik bahwa privilege mempermudah segalanya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah realitas yang jamak terjadi. Ayah dan ibunya musisi, anaknya akan mudah pula jadi musisi. Ayah dan ibunya politikus atau pebisnis, anaknya akan mudah pula bekerja di ranah yang sama. Jarang sekali buah digondol manusia atau hewan, lalu digeletakkan begitu saja di tempat lain yang random, yang jauh.

Jadi penulis? Tak perlu punya orang tua yang juga penulis. Cukup punya akses terhadap bacaan bermutu dan tradisi berpikir yang bebas, sehat, dan terbuka di masyarakat.” (halaman 54)

Eka berpendapat bahwa penyedia akses tidak harus orang tua. Siapa pun bisa, termasuk negara dan masyarakat.

 

Satu lagi esai yang cukup unik, yaitu Maaf, Mau ke Belakang. Di sana tertulis, “… menutup pintu, mengunci, lalu menangis.” (halaman 145)

Kita kerap butuh hening hanya untuk mendengar suara hati sendiri. Sebab, suara otak alias pikiran cenderung lebih mudah terpengaruh faktor eksternal. Kita tidak butuh kebisingan, apalagi jika bising itu kita sendiri yang menciptakan demi menarik perhatian orang lain. Kita tidak butuh orang lain memperhatikan kita. Sebab, perspektif orang lain mungkin jauh panggang dari api. Kita butuh diri kita sendiri untuk memperhatikan apa yang ada di dalam. Diri sendiri yang paling mengerti. Orang lain hanya pemantik agar kita mulai melihat ke dalam. Proyeksi dan refleksi adalah media pembantu.

 

Berikut beberapa kutipan menarik lainnya dari berbagai judul.

Sastra membuat kita memahami pengalaman-pengalaman, perasaan-perasaan, cara pandang yang berbeda-beda ini.” (Pelajaran Mengarang Bebas, halaman 265)

Ia lupa bahwa kekalahan juga merupakan sesuatu yang alamiah.” (Menerima Kekalahan, halaman 20)

Mereka merasa berhak untuk menjadi pengawas, untuk menjadi mata-mata yang melaporkan, dan dalam kasus-kasus tertentu menjadi polisi yang melakukan penindakan.(“Hanya Mengingatkan”, halaman 29)

“… kefanaan hidup manusia membuat setiap momen dalam hidup manudia menjadi sangat penting. Setiap hal menjadi unik, dan kita mencoba memberinya makna terus-menerus untuk hidup sekarang dan masa depan.” (Berebut Kenangan, halaman 217)

Evolusi kehidupan, seperti waktu, tak peduli dengan tetek bengek spektrum moral: ada yang mati untuk keberlanjutan hidup; ada yang bekerja keras untuk kenyamanan hidup selamanya.” (Wkwkwk Ywd, halaman 173)

Manusia merupakan sejenis peta. Yang paling menarik darinya adalah bagaimana dia membaca peta bernama manusia itu. Dia membaca manusia seperti seorang pelamun. Tindak tanduk mereka tidak hanya dilihatnya sebagai gerak badan, tetapi bisa menyeretnya mengembara ke novel D.H. Lawrence atau puisi T.S. Eliot. Melemparkannya ke waktu saat balon melintas langit kota.” (Budi Darma dan Tiga Anak Jembel: Sebuah Obituari, halaman 189)

Seberapa sering kita mendengar seorang istri mengatakan bahwa suaminya ‘sangat baik’ hanya karena ia menafkahi keluarga, mengasuh anak, dan terutama tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga? Padahal, bukankah itu kewajibannya?” (Perbuatan Baik, halaman 228)

 

Belakangan saya menyadari, Tragedimu Komediku ini mirip dengan Wajah Cemas Abu Nuwas karya Hairus Salim HS. Serupa tapi tak sama. Sama-sama bentuk esai ringan, yang esensinya ternyata bukan hal ringan. Sama-sama membuka mata pembaca lebih lebar, tetapi tidak sampai menambah ruwet pikiran. Ketidaksamaannya adalah gaya mereka menyampaikan isi pikiran.

Pada akhirnya, saya membayangkan betapa riuhnya isi kepala seorang Eka Kurniawan. Membayangkan ia merekonstruksi premis tentang pandemi (misalnya) menjadi narasi layaknya ia bertutur ala novel. Menerangkan hal remeh dalam esainya menjadi semacam peta menuju harta karun. Semata-mata agar pembaca mampu memahami apa yang ia bicarakan, yang ujung-ujungnya, ya, perkara penambahan perspektif. Sekian.

 

Denpasar, 3 Juli 2024

 

Sekar Mayang

Editor, penulis, pengulas buku

Hidup di Bali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Tanpa Alasan

Pikiran yang Berlarian